Kamis, 12 Januari 2012

MATERI TATA RIAS KARAKTER WAYANG

MATERI TATA RIAS KARAKTER WAYANG
JURUSAN TATA RIAS DAN KECANTIKAN 
FAKULTAS TEHNIK 
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
OLEH SUNU PURNIADI, S. Pd
1.      TATA RIAS
Tata rias wajah merupakan seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan suatu peranan, dipandang dari titik lihat penonton. Dua hal yang harus diperhatikan dalam tata rias wajah untuk keperluan pentas yaitu lighting (tata lampu atau pencahayaan) dan jarak antara pemain dengan penonton. Tugas tata rias sebagai fungsi pokok, misalnya bisa merubah secara total dari wajah yang asli menjadi bentuk wajah yang dikehendaki dalam keperluan pentas misal manusia menjadi kera, raksasa, burung dan sejenisnya. Sebagai fungsi bantuan bila tata rias wajah digunakan tidak merubah banyak bentuk wajah hal itu sekedar untuk mempercantik wajah saja. (Hari Mawan; 1972 : 48).
Tata rias wajah dan tata rias busana wayang wong sudah mempunyai "pakem" atau aturan yang telah mapan atau mentradisi berabad-abad lamanya. Pelaku-pelaku (pemain) wayang wong profesional misalnya, para pemain pada umumnya telah hafal dan lancar serta dengan cepat berdandan meliputi berbusana mereka sendiri, berusaha sendiri sesuai dengan tokoh lakon yang hendak mereka pentaskan.
Apa yang dimaksud dengan tata rias karakter itu?
Karakter make up (Character Make up/Stage make up) wayang adalah untuk menampilkan watak/karakter tokoh wayang tertentu bagi seseorang aktor dan aktris di panggung. Rias wajah karakter wayang dimaksudkan untuk membantu aktor menggambarkan suatu peran dengan membuat wajahnya/mukanya menyerupai muka peranan watak tokoh wayang yang akan dimainkan. Untuk mengungkapkan gambaran watak tersebut dapat dilakukan rias wajah yang menonjolkan secara realistis maupun non realistis
Rias wajah karakter ini mempunyai ciri-ciri antara lain:
(a) garis-garis rias wajah yang tajam,
(b) warna-warna yang dikenakan dipilih yang menyolok dan kontras,
(c) alas bedak yang digunakan lebih tebal.


(a)                garis-garis rias wajah yang tajam,
Karena rias karakter wayang biasanya di lihat hasil riasannya itu dari jarak jauh, maka rias yang dibentuk harus menggunakan garis-garis yang tebal. Selain itu garis yang tebal juga dapat menonjolkan bentuk bagian tubuh yang diinginkan. Garis tebal ini digunakan untuk mengkoreksi bagian muka pemain/aktor sehingga memunculkan karakter yang berbeda dari penampilan aktor tersebut. Memunculkan karakter tidak hanya didukung oleh rias wajah saja tetapi pemain atau aktor tersebut harus dapat membawakan tokoh atau karakter tersebut diatas panggung.
(b) warna-warna yang dikenakan dipilih yang menyolok dan kontras,
Agar lebih menonjolkan watak atau karakter wayang yang diinginkan, pada rias karakter dipilih juga menggunakan warna-warna yang mencolok. Hal ini dikarenakan dapat menambah kekuatan karakter yang ditampilkan. Misalnya saja ketika akan memerankan tokoh bengis atau anggkara murka, agar mewujudkan karakter itu maka wajah di rias merah merona, dan kemudian diberi garis-garis tebal hitam. Contoh lain apabila kita ingin menonjolkan karakter yang baik hati, kita harus menampilkan wajah yang seanggun mungkin. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada tokoh yang buruk rupanya tetapi baik budi pekertinya. Misalnya tokoh kumbakarno, kakrasana, Kalabendana dll.
(b)   alas bedak yang digunakan lebih tebal.
Rias karakter wayang sedikit berbeda dengan rias sehari-hari, kalau rias karakter wayang kita harus menampilkan karakter tokoh wayang yang dibawakan tetapi kalau rias sehari-hari mungkin kita menonjolkan kelebihan kita masing-masing. Sehingga rias karakter wayang kemungkinan kita harus merubah wajah agar dapat memunculkan karakter wayang yang diinginkan. Selain itu pementasan wayang biasanya dilihat dari jarak jauh. Hal ini yang menyebabkan rias karakter wayang harus menggunakan bedak yang agak tebal. Biasanya bedak yang digunakan memamng khusus untuk pementasan di panggung.

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam merias wajah karakter wayang yaitu:
(a) menganalisa gambaran watak/tokoh yang diinginkan,
(b) mewujudkan gambaran watak/tokoh itu


Prinsip rias wajah karakter wayang pada umumnya yaitu:
1.         Karakter tata rias adalah menggarap tata rias pada wajah untuk
merubah wajah sesuai dengan peran/tokoh yang dimainkan jangan sampai tokoh yang diinginkan tidak terlihat dari arah penonton. Ia harus kelihatan sebagai tokoh yang diperankan, jadi harus memberikan gambaran yang nyata kepada penonton. Hal ini didukung juga oleh laku yang dilakukan.
2.         Tata rias jangan sampai mengganggu wajah pemain, crepe hair jangan sampai mengikat kebebasan urat-urat muka/wajah. Jadi jangan memberikan tata rias yang menganggu kenyamanan wajah pemain itu sendiri.
3.         Make up seorang pemain kelihatan dari jauh yaitu di atas panggung di bawah sinar lampu, harus mempertimbangkan faktor (stage lighting) dan jarak antara penonton dan pemain.
4.         Tata rias yang baik memberikan bantuan besar sekali pada pemain, jadi mempergunakan tata rias sebagai bantuan yang penting pada acting tetapi tidak sebagai pengganti untuk acting.
1.   Tata rias Wajah
Tata rias wajah putri terdiri dari lima karakter atau perwatakan ialah Putri luruh (halus), biasanya tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh wanita yang berwatak halus dan sabar serta berpenampilan lemah lembut seperti tokoh Kunthi, Drupadi, Bratajaya, Sinta dan Ratih.
a.       Putri lanyap (lincah), biasanya tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh wanita yang berwatak keras, tidak sabaran atau pemarah, pemberani serta berpenampilan lincah dan periang (kenes dan tregal-tregel) seperti tokoh Srikandi, Banowati, Mustakaweni, Trijatha.
b.      Putri Madya (antara halus dan lincah), tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh wanita yang berwatak dan berpenampilan diantara luruh dan lanyap misalnya tokoh Lesmanawati, Pergiwati, Siti Sendari, Sulastri.
c.       Putri Gusen (bertaring), biasanya tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh wanita yang berwatak uring-uringan atau pemarah dan agak kasar, sesuai dengan penggambaran tokoh raksasa putri contohnya tokoh Bathari Durga,
d.      Putri Gecul (lucu), tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh wanita yang berperan sebagai pembantu atau dayang-dayang. Berpenampilan lucu atau mendatangkan suasana humor seperti para Emban, Cangik dan Limbuk.
Tata rias wajah putra terdiri dari lima karakter ialah
a.       Putra alus luruh tradisi (lemah lembut), biasanya tata rias wajah ini digunakan untuk tokoh pria yang memiliki karakter berbudi luhur, halus dan sabar serta berpenampilan lemah lembut seperti tokoh Kamajaya, Puntadewa, Permadi, Abimanyu, Rama, Harjuna Sasrabahu.
b.      Putra alus lanyap (halus tapi gesit), ialah tokoh pria yang memiliki karakter berbudi luhur, cerdik dan bijaksana serta berpenampilan cakrak/enerjik contohnya tokoh Kresna, Dewasrani, Samba, Irawan, Kama, Wisanggeni, Wibisana, Nakula dan Sadewa.
c.       Gagah Thelengan (bentuk mata yang ada pada wayang kulit) ialah tokoh pria yang memiliki karakter gagah perkasa penuh wibawa serta berpenampilan pendiam seperti tokoh Bima, Gatutkaca, Antasena, Setyaki, Duryudana dan Jayajatra, ada tokoh yang termasuk gagah thelengan namun berpenampilan agak brangasan (tidak sabaran dan pemarah) yaitu tokoh Kakasrana/Baladewa.
d.      Gagah Prengesan (bentuk mulut yang ada pada wayang kulit) ialah
tokoh pria memiliki karakter suka tertawa kadang-kadang berwatak
jahat contohnya tokoh Dursasana, Durmagati, Pragota.
e.       Gagah Gusen (taring) ialah tokoh pria yang memiliki karakter jahat
dan brangasan seperti tokoh Rahwana, Indrajit, Kangsa, Bomanarakasura, Kartawiyoga.

Selain bentuk rias wajah putra alus luruh, alus lanyap, gagah Thelengan, gagah prengesan, dan gagah gusen terdapat juga bentuk rias khusus yaitu:
a.       Raksasa Raton/raja, ialah tokoh raksasa memiliki karakter yang bengis, kejam, angkara muka dan jahat contohnya tokoh Niwatakawaca, Prahasta, dan Kumbakarna; walaupun raksasa namun tokoh ini berbudi luhur).
b.      Raksasa Gecul (lucu) rias wajah ini biasanya digunakan tokoh raksasa memiliki karakter gerak dan perilakunya bersifat humoris seperti tokoh Galiyuk, Sukasrana dan Kalabendana.
c.       Raksasa Rucah (alasan atau liar) tata rias wajah ini biasanya digunakan dalam peran raksasa yang biasanya berwatak jahat dan angkara murka seperti Buta Cakil dan anak buahnya.
d.      Punakawan (abdi atau pengasuh) tata rias wajah ini biasanya digunakan peran pria sebagai abdi kinasih/tersayang, biasanya berperilaku lucu dan menghibur sebagaimana tokoh Semar, Sareng, Petruk dan Bagong.
e.       Kera, tata rias wajah ini biasanya digunakan tokoh-tokoh yang menggambarkan binatang seperti tokoh Anoman, Anggada, Sugriwa dan Subali.

Demikian semoga bermanfaat di kemudin hari....
Akhirnya “ Tiada ganding yang tak retak..........”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar